Jumat, 18 Maret 2011

Pertemuan Budaya & Konsekuensinya


Indonesia, yang terletak dipersimpangan jalan diagonal barat dan timur, lautan teduh dan lautan Hindia tidak terbebas dari kedatangan bangsa-bangsa asing, dari dahulu hingga sekarang. Yang datang bercokol lama di Indonesia adalah Belanda selama tiga setengah abad, bahkan menjadi penjajah bangsa Indonesia. Bangsa asing lainnya pengaruhnya tidak besar.
Secara kultural yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan keidupan bangsa Indonesia adalah kebudayaan Hindu, Islam, Barat (khususnya Belanda), dan Cina. Jepang pernah berpengaruh walaupun sedikit, terutama karena pernah menduduki Indonesia selama kurang lebih tiga segengah tahun. Oleh sebab itu, kebudayaan Indonesia tidak terlepas dari pengaruh kebudayaan-kebudayaan asing tersebut.
Seperti halnya seseorang jika bertemu dengan seseorang lainnya maka terjadilah perkenalan. Dalam perkenalan terjadi proses komunikasi dan interaksi, dimana satu sama lain saling mengamati baik dari segi fisik maupun dari cipta-rasa-karsanya. Apabila hubungan perkenalan berjalan saling membutuhkan dan menarik, maka perkenalan tersebut meningkat menjadi perkawanan dan dari hubungan perkawanan meningkat lagi menjadi persahabatan. Dari persahabatan secara alamiah akan terjadi saling menyerap, dimana yang baik ditiru sedangkan yang tidak baik ditinggalkan.
Tidak jarang terjadi hal-hal yang baik lama-kelamaan ditiru dan dipakai sebagai perilakunya sehari-hari, seolah-olah sudah menjadi bagian dari jatidiri dan kepribadiannya sendiri, sudah barang tentu melewati proses penyesuaian ataupun modifikasi. Biasanya yang ditiru dan disesuaikan adalah perilaku yang baik dari individu yang kuat, berkuasa, dan berpengaruh, karena perilaku dari mereka itu menentukan jalannya kehidupan mereka yang menerima.
Pertemuan kebudayaan kita (Nusantara) dengan kebudayaan asing tidak jauh berbeda dengan proses terjadinya pertemuan antara individu dalam negeri dengan individu luar negeri. Kita wajib bersyukur karena ternyata kebudayaan Nusantara khususnya Jawa, ternyata mempunyai jatidiri dan kepribadian yang kuat, sehingga ketika bertemu dengan kebudayaan asing, kebudyaan Jawa tidak terkikis tenggelam ditelan (dicaplok) oleh kebudayaan asing.
Hal ini berbeda jauh jika dibandingkan misalnya dengan Philipina : datang bangsa Spayol Philipina boleh dikata ditelan masuk jatidiri dan kepribadiannya ke dalam kebudayaan Spayol, datang Amerika Serikat bangsa Philipina menjadi ke-Amerika-amerikaan. Bangsa kita dulu ketika jaman Belanda sebagian lapisan intelektual hampir saja ditelan oleh kebudayaan Belanda, terbukti misalnya dalam
pergaulan, mereka baru merasa terpelajar dan berstatus tinggi apabila mampu menggunakan bahasa Belanda dengan baik. Untungnya situasi seperti itu dapat dihentikan oleh keperkasaan Presiden Soekarno, sehingga mereka dapat mengoreksi diri kembali ke jiwa nasional.
Bagaimana halnya dengan masyarakat Penghayat ?
Di kalangan masyarakat Penghayat kalau ditanggapi secara cermat sebenarnya terjadi pergokakan batin, namun belum muncul kepermukaan. Fenomenanya sudah nampak, terutama dalam mengklasifikasi jenis Penghayat seperti terurai di bawah ini.
Secara umum Penghayat dapat didefinisi secara ilmiah sebagai berikut : Penghayat adalah seseorang yang menjalankan laku hidup Berketuhanan Yang Maha Esa dengan metode induktif. Sedangkan Agamawan adalah seseorang yang menjalankan laku hidup Berketuhanan Yang Maha Esa dengan metode deduktif. Pada diri Penghayat seseorang tidak mau terikat atau diikat oleh dalil-dalil yang bersumber dari kitab-kitab suci. Betul-betul ia berangkat dari nol, Tujuannya satu, melaksanakan laku hidup yang diyakini sebagai berasal dari dunia batin atau lebih tinggi lagi dunia Ketuhanan. Misalnya soal puasa.
Ia menjalankan dengan sepenuh keyakinan ingin mengetahui susana jiwa dan raga, lahir dan batin, jasmani dan rohani seseorang yang menjalankan puasa. Hari pertama seperti apa, hari kedua seperti apa, dan seterusnya, sampai batas tertentu. Yang menentukan batas awal dan batas akhir puasa bukanlah harus dari kitab suci ataupun aturan agama tertentu, tetapi biasanya atas tuntunan dari seseorang guru laku. Apabila dia sendiri sudah mampu memproleh tuntunan dari Tuhan, maka batas puasa otomatis ditentukan oleh tuntunan yang ia terima sendiri. Di sini sama sekali tidak ada paksaan, semuanya berjalan dengan kesadaran yang dilambari oleh keihlasan. Kalau dikatakan atas dasar kedewasaan, hal ini kurang tepat, sebab dalam kenyataan banyak anak-anak atau remaja yang tiba-tiba mempunyai panggilan batin untuk berpuasa. Terhadap hal ini anak-anak atau remaja tadi dibiarkan saja berjalan tanpa guru laku, kecuali datang pertanyaan kepada orang yang secara kebetulan lebih tua atau pun lebih mengerti.
Secara kualitatif laku hidup Berketuhanan Yang Maha Esa itu bermacam-macam dan jumlahnya tak terhitung. Mungkin pada kesempatan tertentu perlu diinventarisasi jumlah dan jenis laku yang pernah dijalankan oleh masyarakt Penghayat sepanjang sejarah.
Laku hidup beragama sudah barang tentu memiliki disiplin yang ketat, artinya harus tunduk takluk mengikuti acuan yang ditetapkan oleh agamanya. Kalau berbeda dari acuan tersebut, harus siap-siap distempel penyimpangan. Dan kalau sudah menyimpang harus pula siap-siap divonis “Sudah berada di luar agama” atau “Dikeluarkan dari institusi agama”.
Kembali kepada masyarakat Penghayat. Kalau dilihat dari panembah (bersembah) manusia sebenarnya terbagi ke dalam dua jenis, yaitu jenis manusia yang menyembah kepada Tuhan sebagai satu-satunya sesembahan yang wajib disembah dan jenis manusia yang menyembah bukan kepada Tuhan tetapi kepada di luar Tuhan, misalnya mahluk-mahluk halus yang dianggap mempunyai kekuatan dahsyat, sehingga dianggap pula memberi daya lebih atau tuntunan nyata kepada manusia. Dalam hal Penghayat, kita bicara hanya tentang jenis manusia yang betul-betul yakin akan adanya Tuhan Yang Maha Esa dan memberi kekuasaan segala-galanya.
Diantara masyarakat tersebut terjadi tiga jalur pemikiran, hal mana disebabkan karena adanya pengaruh budaya asing yang masuk ke dalam budaya Nusantara :
1. Jalur panembah murni atau sering disebut pula sebagai jalur panembah asli, yaitu jenis panembah yang diturunkan dari leluhurnya sendiri, ditandai dengan kosakata yang relatif kesemuanya berasal dari kosakata bahasa daerahnya sendiri (dalam negeri). Segala aktifitas ritual yang berkaitan dengan bahasa, menggunakan bahasa daerah yang dianggap sebagai bahasa peninggalan leluhurnya. Mereka mempunyai syariat sendiri yang berbeda dengan syariat agama. Jadi salah, kalau ada orang yang mengatakan bahwa mereka tidak mempunyai syariat. Biasanya kaum agama menyebutnya sebagai masyarakat abangan, karena tidak menjalankan syariat agama. Padahal sebutan ini tidak tepat. Contoh antara lain : Paguyuban Perjalanan. Secara kultural jalur ini disebut sebagai jalur akulturasi.
2. Jalur panembah luluh atau sering disebut pula sebagai jalur pengawinan, yaitu jalur panembah yang menggunakan dasar-dasar asli kebudayaan Nusantara dengan dipengaruhi (dicampur, diperkuat) oleh kosakata agama (bahasa Arab, bahasa Sansekerta, bahasa Ibrani ataupun bahasa gama lainnya). Contoh antara lain : Paguyuban Manunggal pimpinan Romo Herucokro (Romo Semana). Secara kultural jalur ini disebut sebagai asimilasi.
3. Jalur panembah rangkap atau sering disebut pula sebagai jalur ganda, yaitu jalur panembah disampng menggunakan syariat agama, juga dirangkapi perilakunya berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Es atau jalur agama yang dilaksanakan secara adat budaya setempat, misalnya kejawen. Jalur ini tidak akan meimbulkan fanatisme, karena memandang bahwa agama adalah sistem nilai tertentu, yang bersifat sangat individual. Sedangkan nilai universalnya terletak pada kepercayaannya terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Dalam pelaksanaannya seseorang tetap menjalankan agamanya secara tertib, akan tetapi secara kebatinan dia menjalankan kepenghayatan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Contoh antara lain : masyarakat kejawen. Mengapa disebut kejawen karena dalam tata-laksananya diusahakan halus, lembut, dan selaras sesuai dengan sifat-sifat budaya Jawa. Ini artinya dalam berkomunikasi dijaga jangan sampai terjadi friksi, sehingga yang tampil adalah harmoni. Di kalangan Penghayat jalur ini paling banyak mendapatkan “pasaran”.
Berkepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa tetapi tidak bergama.
Dalam kenyataan hidup sehari-hari bangsa Indonesia yang dikesankan religus, seperti sering dikatakan sebagian besar penduduk bangsa Indonesia adalah beragama Isalam, namun dalam kenyataan laku perbuatannya tidak mencerminkan orang-orang yang beragama. Banyak korupsi, penipuan, perampokan, pemerkosaan, narkoba, narkotik, ganja, dan laku perbuatan yang tercela.
Di kalangan Penghayat hal ini dipersoalkan sebagai fenomena yang sangat menarik. Kesimpulannya mereka beragama tetapi tidak Berketuhanan Yang Maha Esa. Ini artinya secara lahiriyah mereka menjalankan syariat agama sepenuhnya tetapi batinnya kosong. Kalau begitu tidak semua orang yang beragama Berketuhanan Yang Maha Esa. Predikat beragama mengandung pengertian menjalankan syariat, sedangkan predikat Berketuhanan Yang Maha Esa bermakna menjalankan hidup berbudi pekerti luhur yang ditunjukkan dengan tidak mau berbohong walaupun kepada diri sendiri apalagi merugikan orang lain atau merusak lingkungan alam sekitarnya. Dalam bahasa teknisnya seorang yang Berketuhanan Yang Maha Esa mempunyai komitmen selalu untuk Memayu Hayuning Bawana (Mengusahakan keselamatan, kebahagiaan, dan kesejahteraan hidup di dunia).
Alam beserta segala isinya termasuk manusia tidak boleh dirusak, tetapi justru harus dijaga, dipelihara, dan kelestarikan sehingga tidak terjadi gejolak alam, seperti bermacam-macam bencana alam yang terjadi disekitar kita. Menurut pemahaman ini terjadinya bencana alam gempa dan/atau tsunami misalnya, disebabkan karena terlampu banyaknya manusia yang berbuat tidak baik, berbohgong, tercela, culas, atau dengan kata lain tidak Berketuhanan Yang Maha Esa. Bumi diduduki ribuan gedung pencakar langit tidak akan ambles, akan tetapi begitu ditempati oleh manusia-manusia yang tidak terpuji (berkelakukan tidak baik) seperti itu menjadi tidak kuat, tatakan dibawahnya bergeser ke bawah dan ketika menutup kembali terjadilah gempa. Peristiwa ini perumpamaannya seperti sebuah mobil angkutan penumpang kijang misalnya, yang seharusnya diisi hanya oleh maksimal dua belas orang, ini diisi lebih dari maksimal, sehingga per-nya melengkung dan patah, tidak kuat menambah beban.
Sampai di situ banyak manusia yang tidak percaya bahwa sesungguhnya ada hubungan antara perilaku alam dengan perilaku manusia. Sebagai sekedar contoh kecil misalnya, sebatang tanaman yang tumbuh di halaman rumah kita apabila tidak mendapatkan rawatan, maka tanaman itu akan mrana dan lama-kelamaan mati. Peristiwa perawatan menunjukkan bahwa manusia harus mempunyai, memberi, dan melayani kasih kepada tanaman tersebut seperti halnya juga Tuhan memberi kasih setiap saat kepada alam semesta. Tanpa kasih Tuhan jagat raya berserta isinya tidak terwujud dan hidup.
Dalam kenyataan di dunia sekarang banyak orang beragama tapi sayangnya banyak terjadi terorisme, bom-boman, perang, perlombaan senjata, pertentangan ideologi, dan sebagainya, ini semua menunjukkan bahwa sekalipun mereka
beragama, namun tidak Berketuhanan Yang Maha Esa. Mereka masih mengumbar bawa nafsu.
Hidup Berketuhanan Yang Maha Esa baru terselenggara secara baik kalau sudah terjadi perilaku saling menolong, tidak ada permusuhan, tidak ada pertentangan, kelas, tidak ada kerusuhan, apalagi peperangan yang ada hanyalah perdamaian, persaudaraan, keamanan, kesejahteraan, kebahagiaan, keselamatan, dan kenyamanan sejati.
Oleh sebab itu, dalam hidup ini yang amat penting adalah Berketuhanan Yang Maha Esa, tidak lainnya.

Kamis, 24 Februari 2011

SEJARAH PERKEMBANGAN ILMU DARI ZAMAN PRASEJARAH SAMPAI ZAMAN KONTEMPOREr

a. Zaman Pra-Yunani Kuno (Abad XV-VII SM)
Zaman pra-Yunani Kuno merupakan zaman ketika manusia belum mengenal peralatan seperti yang kita pakai sekarang, namun masih menggunakan batu sebagai peralatan. Adapun sisa peradaban manusia yang ditemukan pada zaman ini antara lain: peralatan dari batu, tulang belulang hewan, sisa beberapa tanaman, gambar-gambar di gua-gua, tempat-tempat penguburan dan tulang belulang manusia purba. Pada zaman ini ditemukan pula alat-alat yang mirip satu sama lain, misalnya kapak sebagai alat pemotong dan pembelah, alat dari tulang yang menyerupai jarum untuk menjahit, dan lain-lain. Benda-benda tersebut terus mengalami perbaikan dan kemajuan dalam proses trial and error dan uji coba yang dilakukan manusia yang memakan waktu lama. Antara abad XV sampai VI SM, manusia telah menemukan besi, tembaga dan perak untuk membuat peralatan-peralatan.
Evolusi ilmu pengetahuan dapat dilihat melalui sejarah perkembangan pemikiran yang terjadi di Yunani, Babylonia, Mesir, Cina, Timur Tengah dan Eropa, dimana perkembangan terhadap teknik yang diterapkan di Eropa, Cina pada abad ke XV SM telah mengembangkan teknik peralatan perunggu, peralatan besi sebagai perangkat perang dikenal pada abad ke V SM. India memberikan perkembangan yang besar dalam perkembangan matematika dengan penemuan bilangan desimal, pemikiran Budhisme yang diadopsi oleh raja Asoka telah menyumbangkan sistem bilangan yang menjadi titik tolak perkembangan sistem bilangan pada zaman modern.
Salah satu ciri pada zaman ini adalah warisan pengetahuan berdasarkan know how yang dilandasi pengalaman empiris. Pada masa ini kemampuan berhitung ditempuh dengan cara one to one corespondency atau map process, hal ini menyerupai anak-anak yang belajar berhitung dengan jari-jarinya. Selain itu manusia sudah mulai memperhatikan alam sebagai suatu proses alam sehingga lama-kelamaan mereka menemukan hal-hal yang berkaitan dengan astronomi. Zaman pra-Yunani Kuno ini ditandai oleh lima kemampuan sebagai berikut: 1) Know How dalam kehidupan sehari-hari yang didasarkan pada pengalaman; 2) Pengetahuan yang berdasarkan pengalaman pengalaman itu dapat diterima sebagai fakta dengan sikap receptive mind; 3) Kemampuan menemukan abjad dan sistem bilangan alam; 4) Kemampuan menulis, berhitung dan menyusun kalender berdasarkan sintesa; 5) Kemampuan meramalkan suatu peristiwa berdasarkan peristiwa sebelumnya.
b. Zaman Yunani Kuno (Abad VII-II SM)
Pada zaman ini dipandang sebagai zaman keemasan filasafat karena pada masa ini orang memiliki kebebasan untuk mengungkapkan ide atau pendapatnya. Pada masa ini, Yunani dianggap sebagai gudang ilmu dan filsafat karena tidak lagi mempercayai mitologi-mitologi. Masa itu telah merangsang orang untuk bersikap senang menyelidiki sesuatu secara kritis, sehingga banyak menghasilkan ahli pikir, seperti:
Ø Thales: mengemukakan bahwa alam semesta itu adalah air karena tidak ada kehidupan tanpa air.
Ø Pythagoras, yang terkenal sebagai filsuf dan juga ahli ilmu ukur serta dikenal pula dengan penemuannya tentang ilmu ukur aritmatik.
Ø Herakleitos: berpendapat bahwa api merupakan asas pertama yang merupakan dasar segala sesuatu yang ada karena menurutnya api adalah lambang perubahan. Ia berpendapat bahwa dalam dunia alamiah tidak ada sesuatu pun yang tetap, tidak ada sesuatu apapun yang dianggap definit atau sempurna.
Ø Parmenides: adalah filsuf pertama yang mempraktekan cabang filsafat yang disebut “metafisika”. Pendapat Parmenides yang terkenal adalah “yang ada, ada dan yang tidak ada, tidak ada”.
Ø Socrates: sumber utama untuk menentukan pikirannya yang dikenal melalui dialog-dialog adalah muridnya yang bernama Plato. Salah satu pemikirannya yang terkenal adalah metode yang dikenal dengan Maicutike Telehne (Ilmu Kebidanan) yaitu suatu metode dialektiva untuk melahirkan kebenaran.
Ø Democritus: dikenal debagai Bapak Atom pertama yang memperkenalkan konsep atom bahwa alam semesta ini sesungguhnya terdiri atas atom-atom yang mempunyai sifat-sifat tertentu.
Ø Plato: adalah filsuf yang pertama kali membangkitkan persoalan Being (ada) dan mempertentangkannya dengan Becoming (hal menjadi). Tujuan utama filsafat menurut Plato adalah penyelidikan pada entitas, seperti apa yang dimaksudkan dengan keadilan, kecantikan, cinta, hasrat, kesamaan dan kesatuan.
Ø Aristoteles: adalah murid Plato yang meneruskan sekaligus menolak ajaran Plato, dan ajarannya dapat diklasifikasikan ke dalam tiga bidang:
i. Metafisika: adalah studi tentang “ada sebagai ada”, yang lebih komprehensif dan fundamental dari ilmu pengetahuan.
ii. Logika: penarikan kesimpulan berdasarkan susunan pikir (Syllogisme).
iii. Biologi: pengamatan untuk pembuktian kebenaran pada ilmu-ilmu empirik.
c. Pertengahan (Abad II-XIV M)
Zaman Pertengahan (Midle Age) ditandai dengan tampilnya para theolog di bidang ilmu pengetahuan, sehingga aktivitas ilmiah terkait dengan aktivitas keagamaan. Peradaban dunia Islam, terutama pada zaman Bani Umayyah telah menemukan suatu cara pengamatan astronomi pada abad VII Masehi, dan pada abad VIII Masehi telah mendirikan sekolah kedokteran dan astronomi. Pada zaman keemasan kebdayaan Islam telah medirikan penerjemahan berbagai karya Yunani, serta menjadi pembuka jalan penggunaan pecahan decimal dan berbagai konsep hitung lainnya.
Sekitar abad 600-700 M, kemajuan ilmu pengetahuan berada di peradaban dunia Islam. Sumbangan sarjana Islam dapat diklasifikasikan ke dalam tiga bidang :
i. Menerjemahkan peninggalan bangsa Yunani dan menyebarluaskannya sehingga dapat dikenal dunia Barat seperti sekarang ini.
ii. Memperluas pengamatan dalam lapangan ilmu kedokteran, obat-obatan, astronomi, ilmu kimia, ilmu bumi dan ilmu tumbuh-tumbuhan.
iii. Menegaskan sistem desimal dan dasar-dasar aljabar.
Perhubungan antara Timur dan Barat selama Perang Salib sangat penting untuk perkembangan kebudayaan Eropa karena pada waktu ekspansi bangsa Arab telah mengambil alih kebudayaan Byzantium, Persia dan Spanyol sehingga tingkat kebudayaan Islam jauh lebih tinggi daripada kebudayaan Eropa.

d. Zaman Renaissance (Abad XIV-XVII M)
“Renaissance” berarti kelahiran kembali. Zaman Renaissance pada abad ke XIV-XVII M merupakan zaman peralihan ketika kebudayaan dari abad pertengahan mulai berubah menjadi kebudayaan modern. Pada zaman ini, pemikiran manusia mulai bebas dan berkembang. Pada zaman Renaissance ini ilmu pengetahuan sudah berkembang, dari tokoh-tokoh seperti :
i. Roger Bacon (1214-1294), yang berpendapat bahwa pengalaman merupakan landasan utama di awal dan ujian akhir bagi semua ilmu pengetahuan. Beliau juga mengajarkan pengalaman sebagai basis dari ilmu pengetahuan.
ii. Corpenicus (1473-1543), terkenal dengan pendapatnya “Heliosentris”, yaitu bahwa bumi dan semua planet bergerak mengelilingi matahari dan matahari sebagai pusat.
iii. Tycho Brahe (1546-1601), yang merupakan penemu benda-benda angkasa, yang membuktikan benda-benda angkasa tersebut terapung bebas dalam ruang angkasa.
iv. Johannes Keppler (1571-1630), sebagai ahli matematika, namun melanjutkan penelitian dari Brahe tentang gerak benda-benda angkasa.
v. Galileo Galilei (1546-1642), menciptakan sebuah teropong bintang terbesar yang dapat mengamati beberapa peristiwa angkasa secara langsung.

e. Zaman Modern (Abad XVII-XIX M)
Zaman ini sudah mulai pada abad XIV yaitu pada zaman Renaissance, yang ditandai dengan adanya penemuan-penemuan ilmu pengetahuan, berarti ilmu pengetahuan berkembang baik pada masa ini. Tokoh-tokoh pada zaman ini antara lain :
i. Rene Descrates (1596-1650), yang dikenal dengan Bapak filsafat modern dan juga seorang ahli ilmu pasti yang menemukan sistem koordinat, yang terdiri dari sumbu X dan sumbu Y.
ii. Issac Newton (1643-1727), yang menemukan beberapa bidang, seperti: 1) Teori Gravitasi, 2) Perhitungan kalkulus, dan 3) Metode tentang Optika.
iii. Charles Darwin, yang berpendapat bahwa makhluk hidup yang dapat menyesuaikan diri akan memiliki peluang yang lebih besar untuk bertahan hidup lebih lama, dan sebaliknya pendapatnya ini dikenal dengan teori evolusi.
iv. J.J. Thompson (1897), menemukan elektron yang merutuhkan teori bahwa atom adalah meteri terkecil. Penemuan ini juga membuka jalan bagi pengembangan Fisika Nuklir.

f. Zaman Kontemporer (Abad XX-sekarang)
Pada zaman ini, Fisika menempati kedudukan yang paling tinggi di antara ilmu-ilmu khusus yang dibicarakan para Filsuf. Menurut Trout (1993), fisika dipandang sebagai dasar ilmu pengetahuan yang subyek materinya mengandung unsur-unsur fisika dengan filsafat secara historis menurutnya terlihat dalam dua cara, yaitu:
Ø Diskusi filosofis mengenai metode-metode fisika dan dalam interaksi antara pandangan substansial tentang fisika.
Ø Ajaran filsafat tradisional yang menjawab fenomena tentang materi, kuasa, serta ruang dan waktu.
Pada abad XX, Albert Einstein manyatakan bahwa alam itu tak terhingga besarnya dan tak terbatas. Akan tetapi, juga tidak berubah status totalitasnya atau bersifat statis dari waktu ke waktu. Seorang fisikawan, Hubble menggunakan teropong bintang terbesar di dunia untuk melihat galaksi-galaksi di sekeliling kita yang tampak menjauhi bumi. Ia mengambil kesimpulan bahwa semua galaksi di jagad raya ini semula bersatu padu dengan galaksi kita (Bima Sakti). Selain teori fisika, teori alam semesta dan lain-lain, maka zaman kontemporer ini ditandai dengan penemuan berbagai teknologi canggih seperti komputer, berbagai satelit, internet dan lain sebagainya. Juga terjadi perkembangan pesat dalam spesialisasi-spesialisasi ilmu yang semakin tajam.

THE SCARLET

Kamis, 11 November 2010

Perbanas: Indonesia Masih Kurang SDM Perbankan

Perhimpunan Bank-bank Umum Nasional (Perbanas) mengungkapkan bahwa saat ini Indonesia masih kekurangan sumber daya manusia (SDM) bidang perbankan. "Tidak hanya SDM perbankan syariah tetapi juga perbankan konvensional," kata Ketua Umum Perbanas, Sigit Pramono di sela Konferensi Perbankan ASEAN di Nusa Dua Bali, Kamis (11/11).

Ia menyebutkan, karena kurangnya SDM perbankan maka tidak jarang terjadi "bedol desa" karyawan bank dari satu bank ke bank lain. "Misalnya bank-bank perkreditan rakyat pernah teriak-teriak karena karyawannya pindah ke bank lain yang mengembangkan kredit mikro," katanya.

Menurut dia, masalah kekurangan SDM bidang perbankan pernah beberapa kali dibahas dalam pertemuan resmi Perbanas. Sigit juga mengatakan bahwa pihaknya mendapat permintaan untuk membuka pendidikan perbankan untuk wilayah Aceh/Medan, Makassar dan Papua.

Mengenai kondisi bank-bank nasional, sebelumnya Sigit mengatakan, bank-bank nasional terutama yang besar-besar sebenarnya berada dalam kondisi baru pulih dari masalah seperti kredit macet. "Bank-bank besar baru pulih membenahi NPL dan masalah lainnya, dalam tiga tahun ini baru selesai konsolidasi dan lebih dominan menggarap pasar domestik," katanya.

Menurut dia, ekspansi keluar negeri merupakan hal yang juga perlu dicermati kalangan perbankan nasional. "Banyak komoditas berupa makanan dan minuman dari Indonesia yang diekapor ke negara lain terutama di kawasan ASEAN seperti Vietnam dan Thailand yang dapat digarap perbankan," katanya.

Sementara itu Deputi Presiden Panin Bank, Roosniati Salihin mengungkapkan, kebutuhan SDM perbankan syariah seluruh Indonesia untuk 2010 ini saja sekitar 5.000 orang. "Panin membuka bank syariah pada tahun ini juga, ada permintaan SDM bidang perbankan syariah di daerah-daerah sehingga pendidikan khusus untuk penyediaannya," katanya.

sumber: Republika,

Rendah, Minat Anak Muda Belajar Sains

Minat generasi muda terhadap mata pelajaran dan profesi yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan atau sains dinilai stagnan dan bahkan menurun. Padahal, penguasaan sains dibutuhkan untuk meningkatkan kualitas hidup manusia di bumi lewat berbagai inovasi dan teknologi yang dikembangkan generasi muda jaman sekarang.
Sebab belajar sains di sekolah monoton, tidak dikaitkan dengan kehidupan di sekitar anak. Pelajaran sains yang seperti ini harus dibenahi.
-- Yohanes Surya
"Sains itu penting untuk kehidupan. Untuk melaksanakan pembangunan yang berkelanjutan dan untuk menyelamatkan keanekaragaman hayati dunia yang selama ini diabaikan butuh bantuan sains. Anak-anak muda kita tidak boleh meninggalkan sains," kata Anwar Al Said dari Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) Perwakilan Kantor Jakarta dalam keterangan pers tentang program Science Festival film atau Festival Film Sains Indonesia 2010 di Jakarta, Kamis (11/11/2010).
Yohanes Surya, Ilmuwan Indonesia dan pendiri Surya Institute, mengatakan anak-anak Indonesia juga mengalami kondisi tidak senang dan takut belajar sains. Ada ketakutan jika anak-anak tersebut belajar sains.
"Sebab belajar sains di sekolah monoton, tidak dikaitkan dengan kehidupan di sekitar anak. Pelajaran sains yang seperti ini harus dibenahi," ujar Yohanes.
Arief Rachman, Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO, menjelaskan, dalam proses belajar guru mesti dengan senang hati melayani pertanyaan-pertanyaan dari anak. Dengan mendorong keberanian anak untuk bertanya tanpa dicemooh atau diremehkan, rasa ingin tahu anak untuk mempelajari dan menggali ilmu pengetahuan semakin besar.
"Belajar itu harus dibuat menarik. Anak-anak harus percaya bahwa ilmu pengetahuan yang dipelajari berguna untuk kehidupan. Ini dimulai dengan mendorong anak untuk mengembangkan kreativitas dan imajinasi mereka yang berguna dalam pengembangan sains," ujar Arief.

sumber: Kompas.

Siswa Lemah di Matematika, Telunjuk Tertuju pada Guru

Para guru yang mengajar matematika di sejumlah daerah, termasuk di ibukota Jakarta, dinilai masih sangat lemah. Hal ini, kata dosen Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan ITB, Dr Ir Tedy Setiawan MT, mempengaruhi kemampuan siswa dalam memahami dan mengerjakan soal matematika.

"Di satu daerah, kita minta guru matematika maju ke depan membahas soal ternyata banyak salahnya. Dari sepuluh soal yang diberikan, ternyata ada yang salah delapan," kata Tedy di Denpasar, Bali, Kamis (11/11).

Hal itu dikemukakan Tedy kapada wartawan di sela-sela acara pelatihan terhadap 100 orang guru matematika se-Denpasar. Pada kesempatan itu Tedy menjadi salah seorang tutor, bersama pengelola situs Telkomsel Sahabat Guru, Ery Wahyu, dan Edy Kusnaedi, seorang guru matematika SMA Negeri Balai Endah Kabupaten Bandung. Pelatihan dilaksanakan atas dukungan program corporate social responcibility (CSR) perusahaan seluler PT Telkomsel.

Menurut Tedy, lemahnya kemampuan guru matematika kerap disadari oleh yang bersangkutan, namun mereka tidak punya forum untuk meningkatkan kemampuannya, sehingga apa yang diajarkan kepada siswa dari tahun ke tahun tidak ada kemajuan. Padahal ilmu matematika sudah berkembang, termasuk dalam menggunakan alat bantu berupa komputer atau sarana informasi teknologi lainnya.

Berdasarkan pengamatannya, kata Tedy, upaya meningkatkan kemampuan matematika para guru kerap sudah diberikan pemerintah melalui pelatihan-pelatihan. Namun selama ini pelatihan guru matematika itu lebih berorientasi pada kurikulum, bukan membahas kontennya.

Mereka, kata Tedy, lebih banyak dilatih membuat laporan atau mengerjakan hal-hal yang berkaitan dengan administrasi pendidikan. "Padahal guru itu harus dilatih bagaimana memecahkan atau menyelesaikan soal-soal yang ada, sehingga secara mudah dapat dimengerti siswa," jelasnya.

Dari pengalamannya memberikan pelatihan, para guru ada yang secara jujur mengakui bahwa selama ini mereka salah memberikan pelajaran kepada siswanya. Mereka kadang juga menyalahkan para siswa yang mengerjakan soal dengan cara berbeda, padahal itu benar.

Di daerah, menurut Tedy, keadaannya lebih parah lagi, di mana para guru umumnya kesulitan meng-update pengetahuannya, sehingga ketika siswanya melanjutkan ke kota, mereka kalah bersaing dengan siswa yang belajar di kota. Karena itu, dia sangat mendukung upaya memberikan pelatihan secara terjadwal bagi para guru matematika yang ada di daerah, dengan harapan mereka bisa memperkaya pengetahuan matematikanya.

PERAN MAHASISWA DALAM MEMPELOPORI ORDE BARU


            Dekrit presiden 5 juli 1959 menetapkan bahwa republik Indonesia kembali menggunakan UUD 1945 sebagai landasan konstitusional. Kemudian presidan soekarno mencamkan Idenya yang kemudian terkenal dengan sebutan Demokrasi terpimpin, yang bertujuan untuk mengendalikan kekuatan-kekuatan politik yang saling bertentangan. Keadaan yang demikian dimanfaatkan oleh gololngan komunis (PKI) untuk lebih mementapkan peranannya dalam dunia politik.
            Timbulnya Ide NASAKOM, yang berdasarkan atas pengkotakan golongan masyarakat dalam 3 golongan, ialah golongan Nasional, golongan Agama dan golongan komunis. Kenyataan demikian juga mempengaruhi kehidupan pemuda/mahasiswa, yang tidak terlepas adanya pengotakan-pengotakan tersebut. Dengan pengotakan tersebut yang terjadi bukannya persatuan dan kesatuan, perpecahan yang dialami. Perpecahan inilah yang selalu dinanti-nantikan oleh golongan komunis. Sebab golongann komunis bisa lebih memantapkan perananya di bidang politik, keadaan ini berlangsung sampai pada puncaknya adalah meletusnya G 30 S/PKI pada tahun 1965.
            Aksi-aksi pengganyangan terhadap PKI timbul secara spontan dari masing-masing golongan, kemudian terorganisasikan dalam Front Pancasila.
            Front pancasila ini mmengilhami lahirnya kesatuan Aksi Mahasiswa (KAMI) yang merupakan unsur penting dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia.
            KAMI menjadi plopor pendobrak kea rah kehidupan baru yang kemudian dikenal dengan nama Orde Baru (ORBA).

Sumber : Buku ISD karangan Drs. Abu Ahmadi

PERHATIAN PARA NEGARAWAN DAN ILMUWAN TERHADAP MASALAH PENDUDUK DUNIA


            Para negarawan dan ilmuan sungguh-sungguh menyadari dan telah memperhitungkan betapa besar bencana yang ditimbulkanoleh ledakan penduduk dunia. Berdasarkan estimasi perkembangan penduduk dunia yang sangat mencemaskan itu lahirlah Kelompok Roma (Club of Rome). Siding pertama kalinya diselenggarakan di Accademia dei Lincei di Doma, pada tahun 1968, siding kedua diselenggarakan di Wina, pada tahun 1969, atas undangan Kanselir Austriam, sejalan dengan itu pada tahun 1969, Sekretaris Jendral PBB (pada waktu itu U Than) menyatakan bahwa bagi anggota PBB “barangkali hanya tinggal sepuluh tahun lagiuntuk menekan pertikaian-pertikaian lama mereka, serta melancarkan satu kerjasama semesta untuk mengekang perlombaan senjata, memperbaiki alam lingkungan manusia, memadamkan eksplosi penduduk dan memberi daya serak yang diperlukan bagi usaha-usaha pembanguna,”  sidang-sidang berikutnya: tahun 1970 di SWISS, tahun 1971 di JOUY, dekat Paris, prancis dan bulan Oktober 1973 diselenggarakan di Tokyo Jepang.
            Kelompok Roma melakukan studi internasional selama 18 bulan dengan biaya dari yayasan Volkswagen di Jerman. Tim studi internasional itu beranggotakan 17 orang, diketuai oleh Dr. Dennis L. Meadow  dari Massachutts Institute of Technology (MIT). The Limits to Growth (batas-batas akhir pertumbuhan dunia) merupakan gerakan tahap pertama dari proyek internasional itu.
            Metrode kerjanya menggunakan jasa computer, yang lebih dikenal dengan model dunia promotif, adalah suatu model menurut Dynamica System yang merupakan metode baru untuk memahami kelekuan dinamis dari system-sistem yang kompleks. Pengetahuan bahwa struktur setiaop system banyaknya hubungan yang bersifat berputar, kait-mengkait.
            Metodelogi system dinamik itu sebagai karya rintisan Prof. Jay Forrester dari MIT. Model dunia ini secara khusus dibuat untuk mempelajari kelekuan kelima unsure dominant, yaitu:
1)      Penduduk yang makin bertambah
2)      Makin pesat industrialisasi
3)      Produk pertanian
4)      Makan abis sumber-sumber alam yang tak tergantikan
5)      Dan makin rusak alam lingkungan, serta mempelajari berbagai pengaruh timbal balik terhadap system dunia dalam jangka panjang.
Dari studi dapat ditarik kesimpulan bawha apabila kondisi-kondisi yang berlaku sekarang ini dibiarkan kadaluarsa, maka dalam waktru 100 tahun saja, daya tahan dan keseimbangan bumi kita akan mencapai batas kemampuan terakhir. Ini berarti akan lumpuhlah system-sistem pendukung dan pembangkit tatanan-tatanan kehidupan di muka bumi ini.

Nb : sumber buku ISD karangan Drs,. Abu Ahmadi